Luna Selena Eleanor

My Faith, My Life, My World, My Destiny

Bintang,
Selayaknya aku bernama 'karang', yang rapuh namun tak henti berusaha tegar. Kerapuhan itu rapi tersembunyi di balik kekuatanku di tengah badai sekalipun. Aku tetap tegak, tak beranjak, meski jutaan ombak menggulung tubuhku. Yang kutakutkan adalah datangnya saat di mana kerapuhan itu terlampau besar dan megah untuk kusembunyikan di balik jubahku. Aku takut semua akan pergi lagi, sama seperti dulu.

Pernahkan kuceritakan tentang rumus hitam itu? Tentang teman yang selalu akan pergi ketika datang teman yang lain? Ketika sedih akan menyita waktu yang baru sedetik kuhabiskan untuk tersenyum? Ketika luka yang semakin lama semakin dalam seiring berlalunya masa?

Lelah, sungguh lelah jika seumur hidup harus kupegang erat kedua tali kekang ini di tanganku. Aku butuh kedua tangan ini untuk memegang erat dan mempertahankan mati-matian saat salah satu tali ini lepas kendali dan nyaris lepas. Tapi jika kulepas, bagaimana dengan tali yang lain? Aku akan kehilangan dia. Sama seperti seorang sahabat yang mati-matian kupertahankan, kudekap, kupeluk, agar ia tak jauh dan menghilang. Berat jika harus kuingat perih yang kurasa selama ini. Sudah kubilang aku takkan beranjak, dan terus di sini kapanpun ia ingin bersandar. Mungkin ia tak percaya. Ia pergi, tepat saat aku kehilangan segalanya. Masih terasa hangat tubuhnya saat punggungnya disandarkan di punggungku. Senyumnya indah untukku. Kata-kata yang kunanti menari dari bibirnya. Aku merasa berharga.

Itu DULU, sebelum ia mundur dan hilang. Sebelum sandaran ini kosong lagi. Bahkan senyum manisnya tersimpan dalam kantong hitamnya, tak ia bagi padaku lagi. Sakitnya, mengingat kala aku berkorban dan selalu siap dikorbankan. Kata-kata itu benar-benar menyakitkan. Hanya sedikit, dua atau tiga patah kata, tapi lukanya terlalu dalam untuk diobati. Saat ini, jelas hanya mampu kupandangi luka itu semakin parah, sama seperti kupandangi dia yang makin jauh.

Ikhlasku tak terhitung. 'Mungkin itulah teman. Harusnya kau tak pergi ketika ia sedang di puncak,"
Ya... Harusnya kau tak pergi saat aku ada di puncak. Harusnya aku tak pergi ketika kau sedang di puncak.
Tapi aku di sini, tak ke mana-mana lagi. Lalu, di mana kau?

Sepi ini membunuhku, Bintang. Nafasku pergi. Paru-paruku sendiri, mati.

Satu lagi yang kutunggu, langit itu. Ia anugerah yang tepat bagiku, tapi aku jelas bukan yang tepat baginya. Aku tak ingin ia sakit, apalagi terluka. Sayang aku selalu salah. Kapanpun. Di manapun. Inginku tak menghapus senyumnya, senyum yang sanggup menguatkanku. Hanya aku tak mengerti bagaimana aku harus menghadapinya. Aku tak mau ia hilang. Harus dengan cara apa kubunuh diriku jika ia sampai terluka, bahkan menghilang?

Sampaikanlah, Bintang. Aku tak mampu membaca hatinya, bahkan lewat ribuan tetes airmataku sekalipun. Yang kumau ia tak pergi lagi, dan aku akan menunggunya di surga ketika saatku tiba.

Bintang...
Aku takut...
Jangan ambil apapun lagi dariku...

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Just an ordinary GIRL... Listen my mind on heello @Reezuna, or facebook. You'll know a little piece of me..

Best Pal

Cari Blog Ini