Luna Selena Eleanor

My Faith, My Life, My World, My Destiny

Tuhan... ini aku...
si bodoh yang tak hentinya merengek padaMu...
Aku ingat, baru kemarin aku memohon agar Kau izinkan aku mematahkan satu dahan kering di pohon itu sebagai tongkat peganganku. Maafkan aku, tongkat itu patah. Aku terlalu keras menggenggamnya. Kali ini aku bukan meminta izinMu untuk mematahkan dahan yang lain, namun hanya meminjam sejengkal bumi untuk menjadi pendengar keluh kesahku.

Aku tak kuat lagi,
Beban ini terlalu berat untukku sendiri. Namun aku tak lagi punya daya, tak mungkin kubagi derita ini pada manusia yang lain. Mereka mungkin bisa mati, jika tidak di ambang gelap sepertiku. Mana mungkin aku akan tega? Seperti tak ada jalan lagi selain menunggu keajaiban datang. Saat ini, yang bisa kulakukan hanya diam, berharap esok masih ada matahari.

Aku tak pernah membenciMu, Tuhan...
Serangkaian tanya tersimpan abadi di balik kepalaku :  mengapa Kau izinkan aku terlahir ke dunia? Mengapa pula Kau ciptakan aku dari bulir-bulir air mata yang harus kukembalikan suatu saat nanti? Mengapa tak Kau jadikan aku dari udara? Mengapa bukan embun? Bagaimana aku harus mengembalikan seluruh air mata ini jika suatu hari kelak semua telah habis terkuras?

Sungguh, aku tak pernah membenciMu...

Mungkin lo pernah denger;

There is LIE in Believe... OVER in Lover... END in Friend... US in Trust... and IF in LIFE...

Well... gue nemu kalimat itu bisa dibilang dalam fase kritis hidup gue. Baru beberapa waktu yang lalu angka 17 nemplok di atas kue ulang tahun gue. Dalam situasi ini, gue langsung dituntut untuk belajar ngambil sikap dalam rangka menghadapi situasi yang ada di sekitar gue.

Kalimat di atas adalah cerminan dari situasi itu. Guys,  ini beneran tergambar dalam apa yang gue alami beberapa waktu lalu...

There is LIE in Believe...
Posisi gue dalam masalah ini cukup berat, man. Keadaan menuntut gue untuk jadi penengah dari semua pihak yang ada. Yes, you can call me a leader. Gue jelas nggak bakal bisa berdiri sendirian, gue butuh semua orang yang bisa bantu gue. Dan gue percaya mereka. Sayang beribu sayang, keadaan bikin gue kecewa. Kepercayaan gue ke beberapa pihak menguap setelah apa yang gue dapet ternyata terlalu pahit buat ditelan rame-rame sekalipun. Pengkhianatan itu terjadi, dan gue terpojok. Sengaja gue nggak akan make kata 'tersakiti' karena emang gue merasa nggak disakiti oleh siapapun. Yang lebih cocok kayaknya kata 'kecewa' deh ya, pas buat semua pihak yang ikutan rugi. Hm... dari situ gue belajar untuk memasang pagar pembatas buat menjaga kepercayaan semua pihak terhadap mereka yang bertanggung jawab...

There is OVER in Lover...
Gue bukan ngebangga-banggain, tapi nyatanya gue sayang mereka semua. Gue bisa ngebaca rasa sayang antara satu dan yang lain dalam komunitas gue. Dan itu jelas banget! Kebayang nggak betapa comfort-nya gue di tengah-tengah mereka?
Sayangnya semuanya berakhir. Bukan lepas satu sama lain, tapi ada beberapa perpecahan yang timbul. Rasa sayang dan persatuan itu pudar. Gue nggak ngerti gimana lagi buat nyatuin semua kayak dulu. Gue dorong dari sisi manapun, mereka tetep diem di tempat masing-masing. Yang ada malah gue yang puyeng..

There is END in Friend

Pertemanan itu indah, guys. Tapi kalo semuanya renggang gara-gara nggak sepaham, nggak ada enaknya sama sekali! Pertemanan dan persahabatan yang dirajut lama banget jadi amburadul. Singkatnya terkorbankan. Banyak kasus yang gue temui bisa memecahbelah komunikasi antarteman dalam komunitas ini. Kasus sepele, beda paham. Ujung-ujungnya yang dulu temen jadi musuh, yang dulunya deket jadi jauh. Anyway, gue nggak bisa apa-apa buat ngerubah hati dan pendirian masing-masing orang. Semua balik ke masing-masing individunya...

There is US in Trust
Kepercayaan seseorang pada yang lain jelas melibatkan tanggung jawab masing-masing. Tanggung jawab ini, bagi sebagian orang berat, sebagian lagi ringan. Tapi dari fakta yang gue temui, tanggung jawab kecil yang dirasa amat sangat berat bisa jadi pemicu masalah ekstra gede. Kalo udah gini, apa yang nganggur, yang nggak punya tanggung jawab khusus, yang harus menanggung tanggung jawab dari mereka yang meninggalkannya? Please,  ini bukan pertandingan bola! Nggak ada pemain cadangan yang siap menggantikan pemain inti saat cedera.

There is IF in Life
Jelas, ada syarat buat survive dalam hidup ini. Kekuatan bukan jaminan, kadang taktik dan kemampuan beradaptasi yang bikin kita bertahan dalam hirarkhi kehidupan. Banyak contoh yang gue liat, perbedaan kecil bisa bikin seseorang terdepak keluar dari komunitas besar. Contoh paling gampang ya masalah duit. Gampangnya, kalo nggak ada duit, lo nggak pantes dapet kehidupan layak yang lo pengen (contoh : jadi temen orang-orang kaya). Jarang kan yang bisa survive melawan arus yang ada?

Semua itu bikin gue sadar, gue butuh banyak belajar. Yang pasti, manajemen diri, hati, dan pikiran gue harus lebih diasah lagi.
Over all, thanks buat temen-temen gue, sindikat yang nggak pernah mati serunya, buat semua dukungan dan hati lo buat gue. Lo semua adalah keluarga terbaik gue.

Love you, bro and sist BndSyc. <3

POLINEMA

DIII – Manajemen Informatika


Ikhtisar
Program Studi Manajemen Informatika, Konsentrasi Sistem Informasi dirancang secara khusus guna menghasilkan tenaga ahli madya bidang sistem informasi, yang memiliki kompetensi bidang manajerial, desain, dan pembuatan basis data, proses bisnis, dan prosedur bisnis dalam bentuk perangkat lunak, yang berkarakter technopreneur, sadar mutu dengan keunggulan kompetitif yang beretika profesi.
 
Program Studi Manajemen Informatika, Konsentrasi Teknik Komputer dan Jaringan dirancang secara khusus guna menghasilkan tenaga ahli madya bidang teknik komputer dan jaringan, yang memiliki kompetensi bidang manajerial, desain, dan pembuatan sistem jaringan dan perangkat pendukungnya, yang berkarakter technopreneur, sadar mutu dengan keunggulan kompetitif yang beretika profesi.
 
Program Studi Manajemen Informatika, Konsentrasi Multimedia dirancang secara khusus guna menghasilkan tenaga ahli madya bidang multimedia, yang memiliki kompetensi bidang manajerial, desain, dan pembuatan perangkat lunak berupa pengolahan teks, audio, video, image, animasi perangkat mobile, desktop, dan jaringan, yang berkarakter technopreneur, sadar mutu dengan keunggulan kompetitif yang beretika profesi.

Kompetensi Lulusan
Program Studi Manajemen Informatika
  1. Konsentrasi Sistem Informasi
    1) Perancang, pembuat, dan technopreneur bidang perangkat lunak;
    2) Teknisi bidang perangkat lunak;
  2. Konsentrasi Teknik Komputer dan Jaringan
    1) Perancang, pembuat, dan technopreneur bidang sistem jaringan dan perangkat pendukungnya;
    2) Teknisi bidang sistem jaringan dan perangkat pendukungnya.
  3. Konsentrasi Multimedia
    1) Perancang, Pembuat, dan Technopreneur bidang perangkat lunak berupa audio, video, pengolahan teks;
    2) Perancang, Pembuat, dan Technopreneur bidang animasi pada perangkat mobile, desktop, dan jaringan.
Peluang Kerja
Lulusan Program Studi Manajemen Informatika, telah berhasil terserap di dunia usaha dan industri, diantaranya perusahaan IT, BUMN, perusahaan pertambangan, perusahaan manufaktur, perbankan, Pegawai Negeri Sipil, Militer, dan wirausaha.

Fasilitas
Laboratorium:
1. Laboratorium Arsitektur Komputer;
2. Laboratorium Basisdata;
3. Laboratorium Internet dan Web;
4. Laboratorium Jaringan Komputer;
5. Laboratorium Multimedia;
6. Laboratorium Pemrograman Komputer;
7. Laboratorium Project;
8. Laboratorium Sistem Informasi.

INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

Institut Seni Indonesia Surakarta merupakan satu dari tiga perguruan tinggi negeri sejenis yang ada di Indonesia.
Lembaga ini telah lama berdiri walaupun statusnya sebagai Institut baru diperoleh sejak September 2006. Cikal-bakal ISI Surakarta bermula dari Lembaga Konservatori Surakarta, yang selanjutnya menjadi Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang didirikan oleh Gendhon Hoemardhani. Penambahan bidang studi Seni Rupa dilakukan setelah pada tahun 1983 lembaga ini menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta.
Program studi yang dapat diambil di ISI Surakarta pada saat ini adalah

Institut Seni Indonesia JOGJA

Institut Seni Indonesia Yogyakarta atau yang disingkat ISI Yogyakarta adalah sebuah perguruan tinggi seni negeri yang terdapat di Kota Yogyakarta, Indonesia. Tepatnya di Jl. Parangtritis Km. 6, kelurahan desa Panggungharjo, kecamatan Sewon, kabupaten Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Institut ini mengkhususkan pada pendidikan di bidang seni, yang terkelompok ke dalam tiga fakultas, yakni: fakultas seni rupa, fakultas seni pertunjukan, dan fakultas seni media rekam. ISI Yogyakarta juga telah memiliki Program Pasca Sarjana yang memiliki program S2 dan S3 untuk penciptaan seni dan pengkajian seni. ISI Yogyakarta dibentuk pada 30 Mei 1984 berdasar keputusan Presiden RI No.39/1984 dan diresmikan pada 23 Juli 1984 dengan Prof. Drs. But Muchtar sebagai rektor pertama. ISI dibentuk setelah dilakukannya penggabungan sejumlah sekolah tinggi kesenian yaitu: Akademi Musik Indonesia (AMI), Akademi Seni Rupa Indonesia (STSRI ASRI) dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI).

Sejarah

Sebelumnya ketiga sekolah tinggi seni berdiri sendiri-sendiri. ASRI, berdiri pada tahun 1950 yang semula berstatus Akademi berkembang menjadi Sekolah Tinggi pada tahun 1968 dengan nama STSRI "ASRI". AMI lahir pada 1963 diawali Sekolah Musik Indonesia (SMIND) pada 1952. Sedangkan ASTI merupakan kelanjutan dari Konservatori Tari Indonesia (KONRI) yang muncul pada tahun 1961. Pada tahun 1973 ketiga pimpinan sekolah tinggi tersebut sepakat membentuk sebuah lembaga pendidkan tinggi seni. Dan akhirnya terbentuklah ISI Yogyakarta pada 1984.

Awalnya ISI Yogyakarta memiliki tiga fakultas yaitu:

Fakultas Kesenian (FK) yang merupakan gabungan unsur ASTI dan AMI.
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) perwujudan dari STSRI "ASRI" dan.
Fakultas Non Gelar Kesenian (FNGK) untuk program pendidikan Strata 0, sebagai penghasil tenaga/praktisi seni. Fakultas ini akhirnya ditutup berdasarkan keputusan rektor ISI Yogyakarta tahun 1991.

Tahun 1993, Fakultas Kesenian diubah namanya menjadi Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), Fakultas Seni Rupa dan Desain dibah namanya menjadi Fakultas Seni Rupa (FSR). Disusul satu fakultas lagi yaitu, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) pada 1994.

Program Pascasarjana S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni dibuka tahun 2004. Sementara Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni S3 dibuka sejak tahun 2006. Pada tahun 2010 program pasca sarjana membuka Program Magister Tata Kelola Seni.

Di era industri kreatif saat ini, ISI Yogyakarta menjadi yang utama dalam mencetak insan profesional di bidang seni dan industri kreatif. Seniman, desainer, fotografer, artis, aktor, pengelola galeri, pengusaha seni, dan pekerja-pekerja seni dari ISI Yogyakarta menempati pos-pos strategis baik dalam percaturan seni dan industri kreatif di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional.

Fakultas dan Program Studi

1. Fakultas Seni Pertunjukan

Jurusan Tari
Jurusan Karawitan
Jurusan Musik
Jurusan Teater
Jurusan Etnomusikologi
Jurusan Pedalangan

2. Fakultas Seni Rupa

Jurusan Seni Murni(Seni Lukis, Seni Patung, dan Seni Grafis).
Jurusan Kriya
Jurusan Desain (Desain Interior dan Desain Komunikasi Visual )

3. Fakultas Seni Media Rekam

Jurusan Fotografi
Jurusan Televisi

4. Program Pasca Sarjana

Magister Penciptaan & Pengkajian Seni (S-2)
Magister Tata Kelola Seni (S-2)
Doktor Penciptaan & Pengkajian Seni (S-3)

INSTITUT KESENIAN JAKARTA


Institut Kesenian Jakarta adalah sebuah institusi pendidikan tinggi yang difasilitasi Pemerintah Daerah Jakarta. Institut ini mengkhususkan diri dalam bidang seni, terutama seni rupa, seni peran, dan perfilman.


Sejarah

IKJ awalnya bernama LPKJ atau Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang didirikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. LPKJ sendiri merupakan usulan dari para seniman yang tergabung dalam Dewan Kesenian Jakarta, sebuah dewan kesenian yang pendiriannya juga difasilitasi oleh Gubernur Ali Sadikin. LPKJ ini didirikan di dalam lingkungan Taman Ismail Marzuki TIM), berdamping-dampingan dengan bangunan pertunjukan dan pameran yang ada di TIM. Menurut Gubernur Ali Sadikin dalam biografinya[1] menyebutkan bahwa dengan demikian para mahasiswa LPKJ menjadi akrab dengan pertunjukan dan pameran kesenian yang diadakan di sana. LPKJ awalnya terdiri dari 5 akademi yaitu: akademi tari, akademi teater, akademi musik, akademi seni rupa dan akademi sinematografi[2]. Namun LPKJ baru diresmikan pada pada tanggal 25 Juni 1976 oleh Presiden Suharto.
LPKJ kemudian berubah status menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1981. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu menginginkan agar lembaga kesenian seperti LPKJ yang dikelola dengan model sanggar dan padepokan menjadi lembaga pendidikan formal. Maka LPKJ pun diubah menjadi IKJ yang dikelola seperti sebuah sekolah formalhttp://www.fftv.ikj.ac.id/id/9/tentang-kami/
Meskipun kemudian pengelolaannya lebih mandiri, fasilitasnya masih menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Akademi Sinematografi awalnya digabung dengan Akademi Seni Rupa karena dianggap satu akar dalam seni visual (Visual Art), sehingga disatuatapkan menjadi sebuah Fakultas Seni Rupa dan Disain. Akademi menjadi Jurusan dan Jurusan Film menjadi bagian dari Fakultas Seni Rupa. Akademi Seni Tari, Seni Teater dan Seni Musik digabung dalam satu Fakultas, karena dianggap dalam rumpun seni pertunjukan, dan dimasukkan dalam Fakultas Seni Pertunjukan.
Seiring dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, Fakultas Seni Rupa dan Disain pun berkembang. Jurusan Film yang semula satu atap dengan Fakultas Seni Rupa dan Disain berpisah, kemudian menjelma menjadi Fakultas Film dan Televisi (FFTV). FFTV pun kemudian berkembang, membuka Jurusan Fotografi dan terakhir membuka Jurusan Kajian Media yang dulu pernah bernama Jurusan Filmologi.
Pada awal tahun 1990-an FFTV-IKJ masuk menjadi anggota [[1]] (asosiasi sekolah film dan televisi Internasional). FFTV–IKJ yang dipimpin oleh Soetomo Gandasubrata saat itu sudah menjadi anggota penuh, bahkan pada saat itu Slamet Rahardjo dipilih sebagai Ketua Perwakilan Cilect di Asia Pasific. Kini setelah konferensi Cilect 2008 di Beijing –FFTV-IKJ hadir diwakili oleh Kusen Dony Hermansyah (Wadek III) dan Tanete A. Pong Masak (Staf Bidang IV FFTV-IKJ)– berhasil memposisikan FFTV-IKJ kembali sebagai anggota tetap Cilect. Dengan demikian FFTV-IKJ kembali sebagai satu-satunya perwakilan Cilect di Indonesiahttp://www.fftv.ikj.ac.id/id/9/tentang-kami/.
Guru Besar IKJ sejak 2004 adalah Sardono W Kusumo.

Fakultas

Galeri Fakultas Seni Rupa IKJ
IKJ memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Seni Rupa, Fakultas Seni Pertunjukan, dan Fakultas Film dan Televisi.

Fakultas Seni Rupa dan Disain ( FSRD )

Fakultas ini berkonsentrasi kepada pengembangan seni dalam wilayah visual, melingkupi tiga jurusan, yaitu seni murni, kriya, dan desain.
  • Program Studi Seni Murni (jenjang S1), dibagi menjadi 3 minat utama: Seni Lukis,Seni Patung,Seni Grafis
  • Program Studi Seni Kriya (jenjang S1): Kriya Kayu, Kriya Keramik, Kriya Tekstil
  • Jurusan Desain (jenjang S1): Program Studi Desain Interior, Program Studi Desain Komunikasi Visual ( DKV ), Program Studi Desain Mode & Busana
Fakultas Seni Rupa IKJ juga menyelenggarakan berbagai kursus; Kursus Lukis, kursus Sablon, kursus Batik, kursus Desain Grafis, kursus Animasi, kursus Ilustrasi,kursus Keramik, kursus Body Painting,kursus Makeup Karakter, dll

Fakultas Seni Pertunjukan ( FSP )

Fakultas Film dan Televisi ( FFTV )

Memiliki 4 jurusan:
  • Film (jenjang D3 & S1)
  • Televisi (jenjang D3 & S1)
  • Fotografi (jenjang S1)[rujukan?]
  • Kajian Media

Daftar Tokoh dan Alumni

Beberapa dosen yang terdaftar di IKJ, meskipun beberapa di antaranya bukanlah lulusan IKJ, sebelumnya sudah menjadi seniman yang diakui. Selain itu lulusan IKJ juga banyak menjadi praktisi dan seniman.

Mentari mengintip dari balik bukit.
Eyang Kakung menyesap kopinya. Gurat-gurat nikmat membayang jelas di balik leher kurusnya. Matanya terpejam, tampak meresapi cairan panas hitam pekat yang mengalir di kerongkongannya. Segelas kopi pahit, dengan setengah gelas bubuk kopi dan setengah sendok gula pasir, sudah menjadi perangkat ritual pagi Eyang di teras depan. Jika sedang rajin, seperti saat ini, kutemani paginya dengan sepiring singkong rebus didampingi beberapa potong jagung manis rebus favoritnya. Masih dalam balutan kaos oblong dan celana pendek kesayangannya, Eyang tampak sangat damai.
 Arep budhal, Nduk?” tanya Eyang tanpa membuka mata.
Aku tersenyum. Kuletakkan piring yang kubawa di dekat gelas kopinya. Dua detik kemudian, Eyang membuka mata dan menatapku. Matanya memang tak lagi gemilang, tapi sorot bijaksana yang selama 15 tahun menyiramiku itu masih belum pudar. Sesaat, memori masa kecil bersama Eyang mencuri perhatianku. Rasanya baru kemarin pria renta kesayanganku ini bertengger di salah satu dahan pohon apel di kebunnya, mengulurkan sebutir  apel ranum untukku. Kupandang ia lekat-lekat, mencari sosok penyabar yang dulu tak pernah marah pada siapapun, termasuk anak-anak kampung yang suka mencuri buah apel di kebun kecilnya.
“Kalau pulang, titip kopi jahe di warung Mbah Darmini ya? Bilang, nggak usah pakai gula!” kata Eyang.
Aku mengangguk. “Inggih, Kung,” jawabku takzim.
Eyang Kakung kembali menutup matanya. Bisa kudengar nafasnya pendek-pendek. Mungkin di balik dada kurus itu, paru-parunya sudah tak bisa menampung udara bersih sebanyak dulu. Sungguh, aku bersyukur, selama 10 tahun tinggal bersamanya tak pernah kulihat Eyang merokok. Jika ada asap rokok di dekatnya, ia akan mengalah dan berpindah ke tempat lain yang agak jauh dari sumber asap. Selain itu, udara Kota Batu yang sejuk dan bebas polusi-lah yang selama ini mengisi paru-parunya. Berani kujamin, hanya masalah usia yang membuat fungsi paru-parunya menurun.
“Sum sudah pulang?” Eyang bersuara.
Aku tercekat. Pertanyaan itu muncul lagi. Entah kapan Eyang akan berhenti menanyakan Lik Sumiati, adik kandung Ibu yang menikah dengan anak majikannya dan saat ini ikut suaminya tinggal di Semarang. Sejak Ibu meninggal 10 tahun lalu, Eyang hanya ingin Lik Sum tinggal di rumahnya dan merawatnya yang sudah renta. Sayang, Lik Sum menolak mentah-mentah. Ia lebih memilih berangkat ke Semarang, melamar kerja di pabrik keramik, daripada tinggal di Batu dan membantu Eyang mengurus kebun apel milik juragan Tejo. Maklum, Lik Sum jelas ingin penghasilan yang lebih besar daripada sekedar menjadi pengurus kebun apel. Bertolak belakang dengan Eyang, yang merasa kejatuhan surga ketika juragan Tejo menghadiahkan sepetak kecil kebunnya untuk dikelola sendiri sebagai tambahan penghasilan.
Nah, bukankah keikhlasan seringkali berbuah manis? Kebun kecil itulah yang akhirnya mengikatku pada Eyang. Lebaran tahun lalu, saat Lik Sum berkunjung ke Batu, aku dan Eyang hendak diboyong ke Semarang. Kehidupan kami jelas akan lebih sejahtera. Eyang hanya perlu duduk manis menikmati kopinya tanpa harus ikut pusing membayar tagihan listrik dan air yang tak seberapa. Namun Eyang bersikeras tak mau meninggalkan kota kecil ini. Baginya, menghidupi diri dari butir-butir apelnya jauh lebih menyenangkan daripada hanya ongkang-ongkang kaki di kota lain. Aku, yang terlanjur menyayanginya, memilih tetap di sini bersamanya.
“Kalau Sum pulang, suruh nyicipi bikang di meja makan ya! Sekalian suruh ambil kain batik titipan Mas Eko di kamar depan,” kata Eyang. Lamunanku buyar. Aku mengangguk saja. Kuhampiri ia dan kucium tangannya penuh hormat.
“Berangkat sekolah dulu, Kung. Assalamualaikum,” kataku.
Mata Eyang terbuka. “Waalaikum salam,” jawabnya diiringi senyum hangat. Dadaku bergetar.
Ah, pria tua itu. Kuharap Lik Sum pulang, menyisakan waktu barang satu jam saja bersama lelaki tua yang kusayang. Kalau saja tidak memiliki kewajiban sekolah, aku pasti menemaninya seharian walaupun cuma duduk berdua di teras rumah. Sayang sekali, aku baru bisa menemaninya lagi sore nanti.
***
Teras depan sepi. Di ruang tengah juga tak ada orang. Eyang belum pulang. Barangkali, seusai menyetor buah apel ke juragan, Eyang ngopi dulu di warung bersama teman-temannya sesama pemanen apel. Berhubung dalam keadaan lelah dan kekenyangan, kuputuskan duduk santai di ruang tengah sambil berisitirahat. Tak kusangka jadinya malah ketiduran dan terbangun keesokan paginya.
Aku tak ingat apa yang membuatku terjaga. Namun, begitu panca indera-ku mulai berfungsi, kutangkap suara orang mengaduk sesuatu di dapur, bersamaan dengan terciumnya aroma jagung rebus kesukaan Eyang. Aku tersenyum. Eyang sudah pulang.
Sayangnya tidak. Di dapur hanya ada Lik Sum, memegang segelas kopi panas di tangan kanan dan sepiring jagung rebus di tangan kiri. Melihatku di ambang pintu, Lik Sum tersenyum.
“Mentang-mentang hari Minggu, anak perawan bangunnya siang ya, Ky,” sindirnya.
“Nggak juga. Anak perawan biasanya bangun pagi kalau cucian lagi segambreng,” aku mengelak. Lik Sum tersenyum. Gelas kopi dan piring berisi jagung rebus diletakkan di meja depan. Kami berbincang sebentar sebelum sadar ada sosok yang hilang di antara kami.
“Eyang mana, Ky?” tanya Lik Sum.
Aku mengedikkan kepala ke teras depan. “Biasa… tuh!”
“Nggak ada. Masa udah berangkat subuh tadi sih? Atau nginep di pos ronda dekat alun-alun?”
Bahuku terangkat. “Mungkin nginep di pos ronda. Oh iya, Lik Sum disuruh nyicipi bikang di meja makan tuh! Terus, kain batik titipan Mas Eko di kamar depan disuruh ngambil sama Eyang,” kataku. Lik Sum berterimakasih sudah diingatkan. Sesaat kemudian, dahinya mengerut. Bibirnya mengerucut lucu.
“Oky jahat ih! Bikang yang mana? Lha wong di meja makan nggak ada apa-apa kok. Bikang yang ada di perut kamu itu bukan sih? Hihihi,”
“Hush! Bikang yang mana juga Oky nggak tahu. Pesen Eyang sih gitu, tapi Oky sendiri belum tahu bikang yang dimaksud itu yang mana,” jawabku. Agak heran juga sih, karena dari kemarin aku juga tak melihat ada kue bikang di atas meja makan. Jadi, yang mana maksud Eyang?
Lik Sum bangkit, berjalan menuju kamar depan. Tak sampai tiga menit, ia keluar dengan wajah bingung.
“Kainnya mana?” tanyanya lagi.
Aku mengangkat bahu. Kemarin kata Eyang ada di kamar depan, barusan Lik Sum bilang kain itu tak ada. Di kamar depan, tempat Eyang biasa tidur, tidak sulit menemukan apapun. Isinya hanya sebuah kasur tua, kaca besar berbingkai kayu, dan lemari baju. Lemari baju Eyang hanya berupa rak kecil terbuka, hanya muat beberapa potong baju sehari-harinya. Baju-baju bagusnya tergantung di balik pintu. Lik Sum bilang, di antara baju-baju itu maupun di tempat lain tak ada kain batik yang ia cari. Lantas, ke mana perginya kain itu? Apakah Eyang menyembunyikannya di suatu tempat? Mengapa begitu? Ah, entahlah.
“Eyangmu sudah mulai pikun ya, Ky?” tanya Lik Sum.
Aku mendengus. Salah sendiri tak mau menjenguk ayah kandungnya selama setahun!, batinku dongkol.
“Biasa, Lik. Orang sepuh,” jawabku enteng. Selanjutnya, Lik Sum mulai nyerocos tentang Eyang, memposisikan diri di tempat yang benar. Lik Sum bilang selama ini belum bisa pulang karena suaminya sibuk bekerja. Ia juga mengutarakan keinginannya untuk memboyong kami berdua tinggal bersamanya agar lebih dekat. Aku cuma mengangkat bahu. Lik Sum paham, kemauan Eyang-lah yang tak bisa digoyahkan.
 Perbincangan kami berlangsung hangat hingga sore. Menjelang senja, Lik Sum pamit. Sebenarnya ia ingin pamit pada Eyang, sayangnya Eyang tak kunjung pulang. Kuakui aku mulai cemas, tapi Mas Eko, penjual kain depan rumah, berkata bahwa Eyang sedang berbincang di pos ronda dekat alun-alun bersama pengurus kebun juragan Tejo yang lain. Mungkin sedang asyik, atau ada hal penting yang sedang dibicarakan, jadi kutunggu saja di rumah.
Tepat setelah adzan isya berkumandang, mataku terpejam. Tubuhku tergolek kelelahan di kamar depan tempat Eyang biasa tidur. Aku bahkan belum sempat menyelesaikan doaku. Semoga saja Tuhan tahu maksudku. Aku ingin Eyang segera pulang.
***
Pagi menjelang.
Sambil membetulkan dasi, aku melangkah ke teras. Berharap Eyang duduk di sana, menyesap kopinya seperti biasa.
Arep budhal, Nduk?”
Ya, Eyang di sana. Aku menghela nafas lega. Eyang memang masih menyesap kopinya, tapi tidak dalam balutan kaos oblong dan celana pendek seperti biasa, melainkan atasan batik dan sarung motif kotak-kotak lusuh pemberian Pak Lurah lebaran lalu.
“Sum sudah pulang?” tanyanya.
“Kemarin, Kung,” jawabku, menunggu reaksi Eyang Kakung sendiri. Namun Eyang hanya mengangguk-angguk, tak ada satu kata pun meluncur dari bibirnya. Kulirik baju batiknya. Aku bingung, sopankah jika kutanyakan soal baju batik itu?
“Baju baru, Kung?” tanyaku setengah sungkan. Rasanya tak sopan, tapi seingatku Eyang tak punya baju seperti itu. Mungkin baru beli.
Eyang mengangguk. “Dibuatkan Mbak Menik, Eyang ingat punya kain batik di kamar depan. Dibayar pakai bikang saja Mbak Menik sudah senang,”
Nah! Jelaslah sudah ke mana larinya bikang dan kain batik buat Lik Sum kemarin. Tahu begini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Eyang sudah sepuh, maklum jika ingatannya tak sebaik 10 tahun lalu saat aku pertama kali tinggal dengannya. Aku hanya bisa tersenyum. Andai saja Lik Sum tahu, batinku.
Eyang berdiri. Ikatan sarungnya dinaikkan sedikit sampai ujungnya agak terangkat. Kaki rentanya melangkah ke arah pintu.
“Kalau Lik Sum pulang, suruh dia nyicipi nagasari anget di kantong plastik itu ya!” pesannya.
Ah, Eyang. Andai kau tahu, aku siap menggantikan Lik Sum. Aku akan tetap di sini, menemanimu di Kota Batu, menyemai harapanmu atas aku dan anak-anakmu.
Eyang, 10 tahun bersamamu membuka mata hatiku untuk berbagi benih mimpi dan harapan di ladangmu. Dengan sepenuh hati, aku siap meneruskan jejak langkahmu di atas tanah kebun apel kecil milik kita.
Nah, bukankah keikhlasan seringkali berbuah manis? Iya kan, Lik Sum?



Kota Wisata Batu
10 Oktober 2011, 23:03

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Just an ordinary GIRL... Listen my mind on heello @Reezuna, or facebook. You'll know a little piece of me..

Best Pal

Cari Blog Ini