Luna Selena Eleanor

My Faith, My Life, My World, My Destiny

Mentari mengintip dari balik bukit.
Eyang Kakung menyesap kopinya. Gurat-gurat nikmat membayang jelas di balik leher kurusnya. Matanya terpejam, tampak meresapi cairan panas hitam pekat yang mengalir di kerongkongannya. Segelas kopi pahit, dengan setengah gelas bubuk kopi dan setengah sendok gula pasir, sudah menjadi perangkat ritual pagi Eyang di teras depan. Jika sedang rajin, seperti saat ini, kutemani paginya dengan sepiring singkong rebus didampingi beberapa potong jagung manis rebus favoritnya. Masih dalam balutan kaos oblong dan celana pendek kesayangannya, Eyang tampak sangat damai.
 Arep budhal, Nduk?” tanya Eyang tanpa membuka mata.
Aku tersenyum. Kuletakkan piring yang kubawa di dekat gelas kopinya. Dua detik kemudian, Eyang membuka mata dan menatapku. Matanya memang tak lagi gemilang, tapi sorot bijaksana yang selama 15 tahun menyiramiku itu masih belum pudar. Sesaat, memori masa kecil bersama Eyang mencuri perhatianku. Rasanya baru kemarin pria renta kesayanganku ini bertengger di salah satu dahan pohon apel di kebunnya, mengulurkan sebutir  apel ranum untukku. Kupandang ia lekat-lekat, mencari sosok penyabar yang dulu tak pernah marah pada siapapun, termasuk anak-anak kampung yang suka mencuri buah apel di kebun kecilnya.
“Kalau pulang, titip kopi jahe di warung Mbah Darmini ya? Bilang, nggak usah pakai gula!” kata Eyang.
Aku mengangguk. “Inggih, Kung,” jawabku takzim.
Eyang Kakung kembali menutup matanya. Bisa kudengar nafasnya pendek-pendek. Mungkin di balik dada kurus itu, paru-parunya sudah tak bisa menampung udara bersih sebanyak dulu. Sungguh, aku bersyukur, selama 10 tahun tinggal bersamanya tak pernah kulihat Eyang merokok. Jika ada asap rokok di dekatnya, ia akan mengalah dan berpindah ke tempat lain yang agak jauh dari sumber asap. Selain itu, udara Kota Batu yang sejuk dan bebas polusi-lah yang selama ini mengisi paru-parunya. Berani kujamin, hanya masalah usia yang membuat fungsi paru-parunya menurun.
“Sum sudah pulang?” Eyang bersuara.
Aku tercekat. Pertanyaan itu muncul lagi. Entah kapan Eyang akan berhenti menanyakan Lik Sumiati, adik kandung Ibu yang menikah dengan anak majikannya dan saat ini ikut suaminya tinggal di Semarang. Sejak Ibu meninggal 10 tahun lalu, Eyang hanya ingin Lik Sum tinggal di rumahnya dan merawatnya yang sudah renta. Sayang, Lik Sum menolak mentah-mentah. Ia lebih memilih berangkat ke Semarang, melamar kerja di pabrik keramik, daripada tinggal di Batu dan membantu Eyang mengurus kebun apel milik juragan Tejo. Maklum, Lik Sum jelas ingin penghasilan yang lebih besar daripada sekedar menjadi pengurus kebun apel. Bertolak belakang dengan Eyang, yang merasa kejatuhan surga ketika juragan Tejo menghadiahkan sepetak kecil kebunnya untuk dikelola sendiri sebagai tambahan penghasilan.
Nah, bukankah keikhlasan seringkali berbuah manis? Kebun kecil itulah yang akhirnya mengikatku pada Eyang. Lebaran tahun lalu, saat Lik Sum berkunjung ke Batu, aku dan Eyang hendak diboyong ke Semarang. Kehidupan kami jelas akan lebih sejahtera. Eyang hanya perlu duduk manis menikmati kopinya tanpa harus ikut pusing membayar tagihan listrik dan air yang tak seberapa. Namun Eyang bersikeras tak mau meninggalkan kota kecil ini. Baginya, menghidupi diri dari butir-butir apelnya jauh lebih menyenangkan daripada hanya ongkang-ongkang kaki di kota lain. Aku, yang terlanjur menyayanginya, memilih tetap di sini bersamanya.
“Kalau Sum pulang, suruh nyicipi bikang di meja makan ya! Sekalian suruh ambil kain batik titipan Mas Eko di kamar depan,” kata Eyang. Lamunanku buyar. Aku mengangguk saja. Kuhampiri ia dan kucium tangannya penuh hormat.
“Berangkat sekolah dulu, Kung. Assalamualaikum,” kataku.
Mata Eyang terbuka. “Waalaikum salam,” jawabnya diiringi senyum hangat. Dadaku bergetar.
Ah, pria tua itu. Kuharap Lik Sum pulang, menyisakan waktu barang satu jam saja bersama lelaki tua yang kusayang. Kalau saja tidak memiliki kewajiban sekolah, aku pasti menemaninya seharian walaupun cuma duduk berdua di teras rumah. Sayang sekali, aku baru bisa menemaninya lagi sore nanti.
***
Teras depan sepi. Di ruang tengah juga tak ada orang. Eyang belum pulang. Barangkali, seusai menyetor buah apel ke juragan, Eyang ngopi dulu di warung bersama teman-temannya sesama pemanen apel. Berhubung dalam keadaan lelah dan kekenyangan, kuputuskan duduk santai di ruang tengah sambil berisitirahat. Tak kusangka jadinya malah ketiduran dan terbangun keesokan paginya.
Aku tak ingat apa yang membuatku terjaga. Namun, begitu panca indera-ku mulai berfungsi, kutangkap suara orang mengaduk sesuatu di dapur, bersamaan dengan terciumnya aroma jagung rebus kesukaan Eyang. Aku tersenyum. Eyang sudah pulang.
Sayangnya tidak. Di dapur hanya ada Lik Sum, memegang segelas kopi panas di tangan kanan dan sepiring jagung rebus di tangan kiri. Melihatku di ambang pintu, Lik Sum tersenyum.
“Mentang-mentang hari Minggu, anak perawan bangunnya siang ya, Ky,” sindirnya.
“Nggak juga. Anak perawan biasanya bangun pagi kalau cucian lagi segambreng,” aku mengelak. Lik Sum tersenyum. Gelas kopi dan piring berisi jagung rebus diletakkan di meja depan. Kami berbincang sebentar sebelum sadar ada sosok yang hilang di antara kami.
“Eyang mana, Ky?” tanya Lik Sum.
Aku mengedikkan kepala ke teras depan. “Biasa… tuh!”
“Nggak ada. Masa udah berangkat subuh tadi sih? Atau nginep di pos ronda dekat alun-alun?”
Bahuku terangkat. “Mungkin nginep di pos ronda. Oh iya, Lik Sum disuruh nyicipi bikang di meja makan tuh! Terus, kain batik titipan Mas Eko di kamar depan disuruh ngambil sama Eyang,” kataku. Lik Sum berterimakasih sudah diingatkan. Sesaat kemudian, dahinya mengerut. Bibirnya mengerucut lucu.
“Oky jahat ih! Bikang yang mana? Lha wong di meja makan nggak ada apa-apa kok. Bikang yang ada di perut kamu itu bukan sih? Hihihi,”
“Hush! Bikang yang mana juga Oky nggak tahu. Pesen Eyang sih gitu, tapi Oky sendiri belum tahu bikang yang dimaksud itu yang mana,” jawabku. Agak heran juga sih, karena dari kemarin aku juga tak melihat ada kue bikang di atas meja makan. Jadi, yang mana maksud Eyang?
Lik Sum bangkit, berjalan menuju kamar depan. Tak sampai tiga menit, ia keluar dengan wajah bingung.
“Kainnya mana?” tanyanya lagi.
Aku mengangkat bahu. Kemarin kata Eyang ada di kamar depan, barusan Lik Sum bilang kain itu tak ada. Di kamar depan, tempat Eyang biasa tidur, tidak sulit menemukan apapun. Isinya hanya sebuah kasur tua, kaca besar berbingkai kayu, dan lemari baju. Lemari baju Eyang hanya berupa rak kecil terbuka, hanya muat beberapa potong baju sehari-harinya. Baju-baju bagusnya tergantung di balik pintu. Lik Sum bilang, di antara baju-baju itu maupun di tempat lain tak ada kain batik yang ia cari. Lantas, ke mana perginya kain itu? Apakah Eyang menyembunyikannya di suatu tempat? Mengapa begitu? Ah, entahlah.
“Eyangmu sudah mulai pikun ya, Ky?” tanya Lik Sum.
Aku mendengus. Salah sendiri tak mau menjenguk ayah kandungnya selama setahun!, batinku dongkol.
“Biasa, Lik. Orang sepuh,” jawabku enteng. Selanjutnya, Lik Sum mulai nyerocos tentang Eyang, memposisikan diri di tempat yang benar. Lik Sum bilang selama ini belum bisa pulang karena suaminya sibuk bekerja. Ia juga mengutarakan keinginannya untuk memboyong kami berdua tinggal bersamanya agar lebih dekat. Aku cuma mengangkat bahu. Lik Sum paham, kemauan Eyang-lah yang tak bisa digoyahkan.
 Perbincangan kami berlangsung hangat hingga sore. Menjelang senja, Lik Sum pamit. Sebenarnya ia ingin pamit pada Eyang, sayangnya Eyang tak kunjung pulang. Kuakui aku mulai cemas, tapi Mas Eko, penjual kain depan rumah, berkata bahwa Eyang sedang berbincang di pos ronda dekat alun-alun bersama pengurus kebun juragan Tejo yang lain. Mungkin sedang asyik, atau ada hal penting yang sedang dibicarakan, jadi kutunggu saja di rumah.
Tepat setelah adzan isya berkumandang, mataku terpejam. Tubuhku tergolek kelelahan di kamar depan tempat Eyang biasa tidur. Aku bahkan belum sempat menyelesaikan doaku. Semoga saja Tuhan tahu maksudku. Aku ingin Eyang segera pulang.
***
Pagi menjelang.
Sambil membetulkan dasi, aku melangkah ke teras. Berharap Eyang duduk di sana, menyesap kopinya seperti biasa.
Arep budhal, Nduk?”
Ya, Eyang di sana. Aku menghela nafas lega. Eyang memang masih menyesap kopinya, tapi tidak dalam balutan kaos oblong dan celana pendek seperti biasa, melainkan atasan batik dan sarung motif kotak-kotak lusuh pemberian Pak Lurah lebaran lalu.
“Sum sudah pulang?” tanyanya.
“Kemarin, Kung,” jawabku, menunggu reaksi Eyang Kakung sendiri. Namun Eyang hanya mengangguk-angguk, tak ada satu kata pun meluncur dari bibirnya. Kulirik baju batiknya. Aku bingung, sopankah jika kutanyakan soal baju batik itu?
“Baju baru, Kung?” tanyaku setengah sungkan. Rasanya tak sopan, tapi seingatku Eyang tak punya baju seperti itu. Mungkin baru beli.
Eyang mengangguk. “Dibuatkan Mbak Menik, Eyang ingat punya kain batik di kamar depan. Dibayar pakai bikang saja Mbak Menik sudah senang,”
Nah! Jelaslah sudah ke mana larinya bikang dan kain batik buat Lik Sum kemarin. Tahu begini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Eyang sudah sepuh, maklum jika ingatannya tak sebaik 10 tahun lalu saat aku pertama kali tinggal dengannya. Aku hanya bisa tersenyum. Andai saja Lik Sum tahu, batinku.
Eyang berdiri. Ikatan sarungnya dinaikkan sedikit sampai ujungnya agak terangkat. Kaki rentanya melangkah ke arah pintu.
“Kalau Lik Sum pulang, suruh dia nyicipi nagasari anget di kantong plastik itu ya!” pesannya.
Ah, Eyang. Andai kau tahu, aku siap menggantikan Lik Sum. Aku akan tetap di sini, menemanimu di Kota Batu, menyemai harapanmu atas aku dan anak-anakmu.
Eyang, 10 tahun bersamamu membuka mata hatiku untuk berbagi benih mimpi dan harapan di ladangmu. Dengan sepenuh hati, aku siap meneruskan jejak langkahmu di atas tanah kebun apel kecil milik kita.
Nah, bukankah keikhlasan seringkali berbuah manis? Iya kan, Lik Sum?



Kota Wisata Batu
10 Oktober 2011, 23:03

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Just an ordinary GIRL... Listen my mind on heello @Reezuna, or facebook. You'll know a little piece of me..

Best Pal

Cari Blog Ini