Thank You is just a simple word. Consist of 2 words which has thousands meaning. Someone who feels enjoy with everything in her/his life may say this, even if they're really unhappy. That words may be a big deal for everyone who needs recognition for their services, and may be not for the others.
but...
Is that really hard for you to say this, sister??
By the way, did you remember about last time? You said I'm Freak? Are you okay? Is there any problem with your head or maybe brain damage? I doubt that!
Well, let's look back to the past. When you were not in your mood, you came to me, cried on my bed, called my name and begged me to cheer you up. I'm crazy to save you here, on my arms. I'm okay even you throw me and tramp me down, but its so unfair when you said that i'm a trouble for your life. At first, it was not a difficult case for me, but today, I think I'm seriously WANT to kill you right now!
Just a simple thank you I think, and everything will be fine. Not just for me, but the others. To your boyfriend, who never knew that he cheated by you. To your boys, who feel perfectly uncomfortable with your behavior around them. Did you ever see this fact? No?
Okay, if you see this, I'm sure that arrogant head will collapse and terribly explode!
In other case, I know you hear a voice inside my head which is written here. You have pairs of ears right? not only one, I think. But you know? I Don't Care !
Well, I just pray for your happy life, but not for your life enjoyment...
see ya!
Untuk LANGIT..
Apa kabar?
cukup lama aku tak menyapamu. Bukan, aku tidak sibuk. Hanya butuh sedikit waktu untukku sendiri.
Kubawakan sesuatu untukmu. Ambillah! Seperti biasa kukemas dengan manis di balik kertas perak berpita biru. Indah? Hm, terimakasih... di dalamnya ada sekeping kisah yang selama ini kurajut untukmu. Bagaimana? Kau suka?
Atau... kau mau aku yang membacakannya?
Oke, begini.
Dua puluh dua Desember,
Aku kembali, seperti mulanya. Sekian tahun kutanam rasa itu perlahan, memupuknya dengan sayang, berharap esok dapat kupetik buahnya. Tak kuduga musim terlalu cepat berganti. Rasa itu layu, hujan melunturkan indahnya. Aku tak bisa lagi melihatnya. Maaf langit, aku tak mampu menjaganya.
Dulu aku pernah kehilangannya. Saat-saat paling kritis dalam hidupku, di saat aku membutuhkannya, ia menghilang. Entah apa yang ia mau, aku mungkin tak boleh menebaknya. Beribu tanya dalam benakku melayang, tak tentu dimana kelak akan menemui jawabnya. Apa yang harus kulakukan? Di mana aku sekarang pun, entahlah.
Langit, aku ingat, kemarin ia masih berbagi senyum untukku. Ketika duka menghantui, tidak sekalipun hilang semangatku. Ia ada. Bahkan dalam genggamanku. Ah, entahlah... mungkin aku terlalu erat menggenggamnya hingga rusak tak berbentuk. Harusnya aku tau ia rapuh. Mengapa kuhancurkan? Astaga, hukum aku saja!
Apa? Cinta?
Bukan.
Aku telah memutuskan semuanya. Aku yakin, Tuhan telah menuntunku menemukan dia, sang istimewa. Dan bukan dia yang saat ini kuceritakan padamu.
Kau, mengenalnya.
Dulu, saat bersamamu, kupanggil ia sahabat...
Maafkan aku, langit. Bukan aku yang menyakitinya. Waktu-lah pelakunya...
Jalanan ini memandangku lekat, dan bertanya :
"Kau, manusia bodoh tempo hari?"
Dan masih anggukan yang sama menjawabnya
Desah nafas mewakili mimpi
Tarikan udara yang mengintip paru-paruku adalah kabar duka
bagi angin
hujan
badai
dan petir...
Jiwaku sendiri tak di sana, tak di tempatnya
Berkelana jauh di angkasa, menumpahkan keluh kesahnya pada langit
(maaf langit, kembali kuganggu tidurmu)
Di atas sana bintang tertawa
Ada opera! katanya
Kisah punguk rindu bulan
Kisah manusia ingin menyesap samudera
Kisah pengemis rindu berlian
Dan kisah sukma rindu raga
Ah! Selesai sudah
Giliran tangis membahana
Air mata berpesta pora
Jalanan ini, benar... yang ini...
Yang membuka telinganya lebar untukku
Tak sedikit pun menyingkir meski aku menjerit
Kadang memeluknya. meruntuhkan bahunya, menikam seperti hendak membunuhnya
Hanya senyum teduh yang dibagikannya untukku sambil berbisik
"Tenanglah, aku masih di sini."
Kali ini, kumohonkan padaMu Tuhan, jangan ambil ia
Biarkan jalanan ini menemaniku hingga ajalku tiba...
Untuk MALAM,
Semoga rahasia ini tersimpan abadi di bawah jubah gelapmu...
Terima kasih (lagi)...
Perbandingan
1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
24. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
Penegasan
1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Semoga bermanfaat :)
Nb:
Majas umum yang sering muncul dalam karya dan soal ujian ^^
