Thank You is just a simple word. Consist of 2 words which has thousands meaning. Someone who feels enjoy with everything in her/his life may say this, even if they're really unhappy. That words may be a big deal for everyone who needs recognition for their services, and may be not for the others.
but...
Is that really hard for you to say this, sister??
By the way, did you remember about last time? You said I'm Freak? Are you okay? Is there any problem with your head or maybe brain damage? I doubt that!
Well, let's look back to the past. When you were not in your mood, you came to me, cried on my bed, called my name and begged me to cheer you up. I'm crazy to save you here, on my arms. I'm okay even you throw me and tramp me down, but its so unfair when you said that i'm a trouble for your life. At first, it was not a difficult case for me, but today, I think I'm seriously WANT to kill you right now!
Just a simple thank you I think, and everything will be fine. Not just for me, but the others. To your boyfriend, who never knew that he cheated by you. To your boys, who feel perfectly uncomfortable with your behavior around them. Did you ever see this fact? No?
Okay, if you see this, I'm sure that arrogant head will collapse and terribly explode!
In other case, I know you hear a voice inside my head which is written here. You have pairs of ears right? not only one, I think. But you know? I Don't Care !
Well, I just pray for your happy life, but not for your life enjoyment...
see ya!
Untuk LANGIT..
Apa kabar?
cukup lama aku tak menyapamu. Bukan, aku tidak sibuk. Hanya butuh sedikit waktu untukku sendiri.
Kubawakan sesuatu untukmu. Ambillah! Seperti biasa kukemas dengan manis di balik kertas perak berpita biru. Indah? Hm, terimakasih... di dalamnya ada sekeping kisah yang selama ini kurajut untukmu. Bagaimana? Kau suka?
Atau... kau mau aku yang membacakannya?
Oke, begini.
Dua puluh dua Desember,
Aku kembali, seperti mulanya. Sekian tahun kutanam rasa itu perlahan, memupuknya dengan sayang, berharap esok dapat kupetik buahnya. Tak kuduga musim terlalu cepat berganti. Rasa itu layu, hujan melunturkan indahnya. Aku tak bisa lagi melihatnya. Maaf langit, aku tak mampu menjaganya.
Dulu aku pernah kehilangannya. Saat-saat paling kritis dalam hidupku, di saat aku membutuhkannya, ia menghilang. Entah apa yang ia mau, aku mungkin tak boleh menebaknya. Beribu tanya dalam benakku melayang, tak tentu dimana kelak akan menemui jawabnya. Apa yang harus kulakukan? Di mana aku sekarang pun, entahlah.
Langit, aku ingat, kemarin ia masih berbagi senyum untukku. Ketika duka menghantui, tidak sekalipun hilang semangatku. Ia ada. Bahkan dalam genggamanku. Ah, entahlah... mungkin aku terlalu erat menggenggamnya hingga rusak tak berbentuk. Harusnya aku tau ia rapuh. Mengapa kuhancurkan? Astaga, hukum aku saja!
Apa? Cinta?
Bukan.
Aku telah memutuskan semuanya. Aku yakin, Tuhan telah menuntunku menemukan dia, sang istimewa. Dan bukan dia yang saat ini kuceritakan padamu.
Kau, mengenalnya.
Dulu, saat bersamamu, kupanggil ia sahabat...
Maafkan aku, langit. Bukan aku yang menyakitinya. Waktu-lah pelakunya...
Jalanan ini memandangku lekat, dan bertanya :
"Kau, manusia bodoh tempo hari?"
Dan masih anggukan yang sama menjawabnya
Desah nafas mewakili mimpi
Tarikan udara yang mengintip paru-paruku adalah kabar duka
bagi angin
hujan
badai
dan petir...
Jiwaku sendiri tak di sana, tak di tempatnya
Berkelana jauh di angkasa, menumpahkan keluh kesahnya pada langit
(maaf langit, kembali kuganggu tidurmu)
Di atas sana bintang tertawa
Ada opera! katanya
Kisah punguk rindu bulan
Kisah manusia ingin menyesap samudera
Kisah pengemis rindu berlian
Dan kisah sukma rindu raga
Ah! Selesai sudah
Giliran tangis membahana
Air mata berpesta pora
Jalanan ini, benar... yang ini...
Yang membuka telinganya lebar untukku
Tak sedikit pun menyingkir meski aku menjerit
Kadang memeluknya. meruntuhkan bahunya, menikam seperti hendak membunuhnya
Hanya senyum teduh yang dibagikannya untukku sambil berbisik
"Tenanglah, aku masih di sini."
Kali ini, kumohonkan padaMu Tuhan, jangan ambil ia
Biarkan jalanan ini menemaniku hingga ajalku tiba...
Untuk MALAM,
Semoga rahasia ini tersimpan abadi di bawah jubah gelapmu...
Terima kasih (lagi)...
Perbandingan
1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
24. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
Penegasan
1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Semoga bermanfaat :)
Nb:
Majas umum yang sering muncul dalam karya dan soal ujian ^^
Tuhan... ini aku...
si bodoh yang tak hentinya merengek padaMu...
Aku ingat, baru kemarin aku memohon agar Kau izinkan aku mematahkan satu dahan kering di pohon itu sebagai tongkat peganganku. Maafkan aku, tongkat itu patah. Aku terlalu keras menggenggamnya. Kali ini aku bukan meminta izinMu untuk mematahkan dahan yang lain, namun hanya meminjam sejengkal bumi untuk menjadi pendengar keluh kesahku.
Aku tak kuat lagi,
Beban ini terlalu berat untukku sendiri. Namun aku tak lagi punya daya, tak mungkin kubagi derita ini pada manusia yang lain. Mereka mungkin bisa mati, jika tidak di ambang gelap sepertiku. Mana mungkin aku akan tega? Seperti tak ada jalan lagi selain menunggu keajaiban datang. Saat ini, yang bisa kulakukan hanya diam, berharap esok masih ada matahari.
Aku tak pernah membenciMu, Tuhan...
Serangkaian tanya tersimpan abadi di balik kepalaku : mengapa Kau izinkan aku terlahir ke dunia? Mengapa pula Kau ciptakan aku dari bulir-bulir air mata yang harus kukembalikan suatu saat nanti? Mengapa tak Kau jadikan aku dari udara? Mengapa bukan embun? Bagaimana aku harus mengembalikan seluruh air mata ini jika suatu hari kelak semua telah habis terkuras?
Sungguh, aku tak pernah membenciMu...
Mungkin lo pernah denger;
There is LIE in Believe...
Posisi gue dalam masalah ini cukup berat, man. Keadaan menuntut gue untuk jadi penengah dari semua pihak yang ada. Yes, you can call me a leader. Gue jelas nggak bakal bisa berdiri sendirian, gue butuh semua orang yang bisa bantu gue. Dan gue percaya mereka. Sayang beribu sayang, keadaan bikin gue kecewa. Kepercayaan gue ke beberapa pihak menguap setelah apa yang gue dapet ternyata terlalu pahit buat ditelan rame-rame sekalipun. Pengkhianatan itu terjadi, dan gue terpojok. Sengaja gue nggak akan make kata 'tersakiti' karena emang gue merasa nggak disakiti oleh siapapun. Yang lebih cocok kayaknya kata 'kecewa' deh ya, pas buat semua pihak yang ikutan rugi. Hm... dari situ gue belajar untuk memasang pagar pembatas buat menjaga kepercayaan semua pihak terhadap mereka yang bertanggung jawab...
There is OVER in Lover...
Sayangnya semuanya berakhir. Bukan lepas satu sama lain, tapi ada beberapa perpecahan yang timbul. Rasa sayang dan persatuan itu pudar. Gue nggak ngerti gimana lagi buat nyatuin semua kayak dulu. Gue dorong dari sisi manapun, mereka tetep diem di tempat masing-masing. Yang ada malah gue yang puyeng..
There is END in Friend
Pertemanan itu indah, guys. Tapi kalo semuanya renggang gara-gara nggak sepaham, nggak ada enaknya sama sekali! Pertemanan dan persahabatan yang dirajut lama banget jadi amburadul. Singkatnya terkorbankan. Banyak kasus yang gue temui bisa memecahbelah komunikasi antarteman dalam komunitas ini. Kasus sepele, beda paham. Ujung-ujungnya yang dulu temen jadi musuh, yang dulunya deket jadi jauh. Anyway, gue nggak bisa apa-apa buat ngerubah hati dan pendirian masing-masing orang. Semua balik ke masing-masing individunya...
There is US in Trust
Kepercayaan seseorang pada yang lain jelas melibatkan tanggung jawab masing-masing. Tanggung jawab ini, bagi sebagian orang berat, sebagian lagi ringan. Tapi dari fakta yang gue temui, tanggung jawab kecil yang dirasa amat sangat berat bisa jadi pemicu masalah ekstra gede. Kalo udah gini, apa yang nganggur, yang nggak punya tanggung jawab khusus, yang harus menanggung tanggung jawab dari mereka yang meninggalkannya? Please, ini bukan pertandingan bola! Nggak ada pemain cadangan yang siap menggantikan pemain inti saat cedera.
There is IF in Life
Jelas, ada syarat buat survive dalam hidup ini. Kekuatan bukan jaminan, kadang taktik dan kemampuan beradaptasi yang bikin kita bertahan dalam hirarkhi kehidupan. Banyak contoh yang gue liat, perbedaan kecil bisa bikin seseorang terdepak keluar dari komunitas besar. Contoh paling gampang ya masalah duit. Gampangnya, kalo nggak ada duit, lo nggak pantes dapet kehidupan layak yang lo pengen (contoh : jadi temen orang-orang kaya). Jarang kan yang bisa survive melawan arus yang ada?
Semua itu bikin gue sadar, gue butuh banyak belajar. Yang pasti, manajemen diri, hati, dan pikiran gue harus lebih diasah lagi.
Over all, thanks buat temen-temen gue, sindikat yang nggak pernah mati serunya, buat semua dukungan dan hati lo buat gue. Lo semua adalah keluarga terbaik gue.
Love you, bro and sist BndSyc. <3
POLINEMA
DIII – Manajemen Informatika
IkhtisarProgram Studi Manajemen Informatika, Konsentrasi Sistem Informasi dirancang secara khusus guna menghasilkan tenaga ahli madya bidang sistem informasi, yang memiliki kompetensi bidang manajerial, desain, dan pembuatan basis data, proses bisnis, dan prosedur bisnis dalam bentuk perangkat lunak, yang berkarakter technopreneur, sadar mutu dengan keunggulan kompetitif yang beretika profesi.
Program Studi Manajemen Informatika, Konsentrasi Teknik Komputer dan Jaringan dirancang secara khusus guna menghasilkan tenaga ahli madya bidang teknik komputer dan jaringan, yang memiliki kompetensi bidang manajerial, desain, dan pembuatan sistem jaringan dan perangkat pendukungnya, yang berkarakter technopreneur, sadar mutu dengan keunggulan kompetitif yang beretika profesi.
Program Studi Manajemen Informatika, Konsentrasi Multimedia dirancang secara khusus guna menghasilkan tenaga ahli madya bidang multimedia, yang memiliki kompetensi bidang manajerial, desain, dan pembuatan perangkat lunak berupa pengolahan teks, audio, video, image, animasi perangkat mobile, desktop, dan jaringan, yang berkarakter technopreneur, sadar mutu dengan keunggulan kompetitif yang beretika profesi.
Kompetensi Lulusan
Program Studi Manajemen Informatika
- Konsentrasi Sistem Informasi
1) Perancang, pembuat, dan technopreneur bidang perangkat lunak;
2) Teknisi bidang perangkat lunak; - Konsentrasi Teknik Komputer dan Jaringan
1) Perancang, pembuat, dan technopreneur bidang sistem jaringan dan perangkat pendukungnya;
2) Teknisi bidang sistem jaringan dan perangkat pendukungnya. - Konsentrasi Multimedia
1) Perancang, Pembuat, dan Technopreneur bidang perangkat lunak berupa audio, video, pengolahan teks;
2) Perancang, Pembuat, dan Technopreneur bidang animasi pada perangkat mobile, desktop, dan jaringan.
Lulusan Program Studi Manajemen Informatika, telah berhasil terserap di dunia usaha dan industri, diantaranya perusahaan IT, BUMN, perusahaan pertambangan, perusahaan manufaktur, perbankan, Pegawai Negeri Sipil, Militer, dan wirausaha.
Fasilitas
Laboratorium:
1. Laboratorium Arsitektur Komputer;
2. Laboratorium Basisdata;
3. Laboratorium Internet dan Web;
4. Laboratorium Jaringan Komputer;
5. Laboratorium Multimedia;
6. Laboratorium Pemrograman Komputer;
7. Laboratorium Project;
8. Laboratorium Sistem Informasi.
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
Institut Seni Indonesia Surakarta merupakan satu dari tiga perguruan tinggi negeri sejenis yang ada di Indonesia.
Lembaga ini telah lama berdiri walaupun statusnya sebagai Institut baru diperoleh sejak September 2006. Cikal-bakal ISI Surakarta bermula dari Lembaga Konservatori Surakarta, yang selanjutnya menjadi Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang didirikan oleh Gendhon Hoemardhani. Penambahan bidang studi Seni Rupa dilakukan setelah pada tahun 1983 lembaga ini menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta.
Program studi yang dapat diambil di ISI Surakarta pada saat ini adalah
Institut Seni Indonesia JOGJA
Institut Seni Indonesia Yogyakarta atau yang disingkat ISI Yogyakarta adalah sebuah perguruan tinggi seni negeri yang terdapat di Kota Yogyakarta, Indonesia. Tepatnya di Jl. Parangtritis Km. 6, kelurahan desa Panggungharjo, kecamatan Sewon, kabupaten Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Institut ini mengkhususkan pada pendidikan di bidang seni, yang terkelompok ke dalam tiga fakultas, yakni: fakultas seni rupa, fakultas seni pertunjukan, dan fakultas seni media rekam. ISI Yogyakarta juga telah memiliki Program Pasca Sarjana yang memiliki program S2 dan S3 untuk penciptaan seni dan pengkajian seni. ISI Yogyakarta dibentuk pada 30 Mei 1984 berdasar keputusan Presiden RI No.39/1984 dan diresmikan pada 23 Juli 1984 dengan Prof. Drs. But Muchtar sebagai rektor pertama. ISI dibentuk setelah dilakukannya penggabungan sejumlah sekolah tinggi kesenian yaitu: Akademi Musik Indonesia (AMI), Akademi Seni Rupa Indonesia (STSRI ASRI) dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI).
Sejarah
Sebelumnya ketiga sekolah tinggi seni berdiri sendiri-sendiri. ASRI, berdiri pada tahun 1950 yang semula berstatus Akademi berkembang menjadi Sekolah Tinggi pada tahun 1968 dengan nama STSRI "ASRI". AMI lahir pada 1963 diawali Sekolah Musik Indonesia (SMIND) pada 1952. Sedangkan ASTI merupakan kelanjutan dari Konservatori Tari Indonesia (KONRI) yang muncul pada tahun 1961. Pada tahun 1973 ketiga pimpinan sekolah tinggi tersebut sepakat membentuk sebuah lembaga pendidkan tinggi seni. Dan akhirnya terbentuklah ISI Yogyakarta pada 1984.
Awalnya ISI Yogyakarta memiliki tiga fakultas yaitu:
Fakultas Kesenian (FK) yang merupakan gabungan unsur ASTI dan AMI.
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) perwujudan dari STSRI "ASRI" dan.
Fakultas Non Gelar Kesenian (FNGK) untuk program pendidikan Strata 0, sebagai penghasil tenaga/praktisi seni. Fakultas ini akhirnya ditutup berdasarkan keputusan rektor ISI Yogyakarta tahun 1991.
Tahun 1993, Fakultas Kesenian diubah namanya menjadi Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), Fakultas Seni Rupa dan Desain dibah namanya menjadi Fakultas Seni Rupa (FSR). Disusul satu fakultas lagi yaitu, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) pada 1994.
Program Pascasarjana S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni dibuka tahun 2004. Sementara Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni S3 dibuka sejak tahun 2006. Pada tahun 2010 program pasca sarjana membuka Program Magister Tata Kelola Seni.
Di era industri kreatif saat ini, ISI Yogyakarta menjadi yang utama dalam mencetak insan profesional di bidang seni dan industri kreatif. Seniman, desainer, fotografer, artis, aktor, pengelola galeri, pengusaha seni, dan pekerja-pekerja seni dari ISI Yogyakarta menempati pos-pos strategis baik dalam percaturan seni dan industri kreatif di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional.
Fakultas dan Program Studi
1. Fakultas Seni Pertunjukan
Jurusan Tari
Jurusan Karawitan
Jurusan Musik
Jurusan Teater
Jurusan Etnomusikologi
Jurusan Pedalangan
2. Fakultas Seni Rupa
Jurusan Seni Murni(Seni Lukis, Seni Patung, dan Seni Grafis).
Jurusan Kriya
Jurusan Desain (Desain Interior dan Desain Komunikasi Visual )
3. Fakultas Seni Media Rekam
Jurusan Fotografi
Jurusan Televisi
4. Program Pasca Sarjana
Magister Penciptaan & Pengkajian Seni (S-2)
Magister Tata Kelola Seni (S-2)
Doktor Penciptaan & Pengkajian Seni (S-3)
INSTITUT KESENIAN JAKARTA
Institut Kesenian Jakarta adalah sebuah institusi pendidikan tinggi yang difasilitasi Pemerintah Daerah Jakarta. Institut ini mengkhususkan diri dalam bidang seni, terutama seni rupa, seni peran, dan perfilman.
Sejarah
IKJ awalnya bernama LPKJ atau Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang didirikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. LPKJ sendiri merupakan usulan dari para seniman yang tergabung dalam Dewan Kesenian Jakarta, sebuah dewan kesenian yang pendiriannya juga difasilitasi oleh Gubernur Ali Sadikin. LPKJ ini didirikan di dalam lingkungan Taman Ismail Marzuki TIM), berdamping-dampingan dengan bangunan pertunjukan dan pameran yang ada di TIM. Menurut Gubernur Ali Sadikin dalam biografinya[1] menyebutkan bahwa dengan demikian para mahasiswa LPKJ menjadi akrab dengan pertunjukan dan pameran kesenian yang diadakan di sana. LPKJ awalnya terdiri dari 5 akademi yaitu: akademi tari, akademi teater, akademi musik, akademi seni rupa dan akademi sinematografi[2]. Namun LPKJ baru diresmikan pada pada tanggal 25 Juni 1976 oleh Presiden Suharto.LPKJ kemudian berubah status menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1981. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu menginginkan agar lembaga kesenian seperti LPKJ yang dikelola dengan model sanggar dan padepokan menjadi lembaga pendidikan formal. Maka LPKJ pun diubah menjadi IKJ yang dikelola seperti sebuah sekolah formalhttp://www.fftv.ikj.ac.id/id/9/tentang-kami/
Meskipun kemudian pengelolaannya lebih mandiri, fasilitasnya masih menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Akademi Sinematografi awalnya digabung dengan Akademi Seni Rupa karena dianggap satu akar dalam seni visual (Visual Art), sehingga disatuatapkan menjadi sebuah Fakultas Seni Rupa dan Disain. Akademi menjadi Jurusan dan Jurusan Film menjadi bagian dari Fakultas Seni Rupa. Akademi Seni Tari, Seni Teater dan Seni Musik digabung dalam satu Fakultas, karena dianggap dalam rumpun seni pertunjukan, dan dimasukkan dalam Fakultas Seni Pertunjukan.
Seiring dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, Fakultas Seni Rupa dan Disain pun berkembang. Jurusan Film yang semula satu atap dengan Fakultas Seni Rupa dan Disain berpisah, kemudian menjelma menjadi Fakultas Film dan Televisi (FFTV). FFTV pun kemudian berkembang, membuka Jurusan Fotografi dan terakhir membuka Jurusan Kajian Media yang dulu pernah bernama Jurusan Filmologi.
Pada awal tahun 1990-an FFTV-IKJ masuk menjadi anggota [[1]] (asosiasi sekolah film dan televisi Internasional). FFTV–IKJ yang dipimpin oleh Soetomo Gandasubrata saat itu sudah menjadi anggota penuh, bahkan pada saat itu Slamet Rahardjo dipilih sebagai Ketua Perwakilan Cilect di Asia Pasific. Kini setelah konferensi Cilect 2008 di Beijing –FFTV-IKJ hadir diwakili oleh Kusen Dony Hermansyah (Wadek III) dan Tanete A. Pong Masak (Staf Bidang IV FFTV-IKJ)– berhasil memposisikan FFTV-IKJ kembali sebagai anggota tetap Cilect. Dengan demikian FFTV-IKJ kembali sebagai satu-satunya perwakilan Cilect di Indonesiahttp://www.fftv.ikj.ac.id/id/9/tentang-kami/.
Guru Besar IKJ sejak 2004 adalah Sardono W Kusumo.
Fakultas
IKJ memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Seni Rupa, Fakultas Seni Pertunjukan, dan Fakultas Film dan Televisi.Fakultas Seni Rupa dan Disain ( FSRD )
Fakultas ini berkonsentrasi kepada pengembangan seni dalam wilayah visual, melingkupi tiga jurusan, yaitu seni murni, kriya, dan desain.- Program Studi Seni Murni (jenjang S1), dibagi menjadi 3 minat utama: Seni Lukis,Seni Patung,Seni Grafis
- Program Studi Seni Kriya (jenjang S1): Kriya Kayu, Kriya Keramik, Kriya Tekstil
- Jurusan Desain (jenjang S1): Program Studi Desain Interior, Program Studi Desain Komunikasi Visual ( DKV ), Program Studi Desain Mode & Busana
Fakultas Seni Pertunjukan ( FSP )
Fakultas Film dan Televisi ( FFTV )
Memiliki 4 jurusan:- Film (jenjang D3 & S1)
- Televisi (jenjang D3 & S1)
- Fotografi (jenjang S1)[rujukan?]
- Kajian Media
Daftar Tokoh dan Alumni
Beberapa dosen yang terdaftar di IKJ, meskipun beberapa di antaranya bukanlah lulusan IKJ, sebelumnya sudah menjadi seniman yang diakui. Selain itu lulusan IKJ juga banyak menjadi praktisi dan seniman.- Slamet Rahardjo - sutradara
- Mira Lesmana - produser film
- Firman Lie - seniman grafis
- Garin Nugroho - sutradara
- Subarkah - Ahli tata rias dan special effect
- Srihadi Soedarsono - pelukis
- Didi Petet - aktor
- Dolorosa Sinaga - pematung
- Yani M. Sastranegara - pematung
- Awan Simatupang - pematung
- Budi L. Tobing - pematung
- Iriantine Karnaya - pematung
- Hardiman Radjab - pematung dan penata artistik
- Aditya Tobing - penata artistik
- Nungki Kusumastuti - penari dan aktris
- Marusya Nainggolan - komponis
- Benny Rachmadi - kartunis
- Muhammad Misrad - kartunis
- Eddie Riwanto - sutradara dan aktor
- Slamet Rahardjo - aktor dan sutradara
- Sentot Sahid - editor dan produser
- Agni Ariatama - Director Of Photography
- Jujur Prananto - script writer
- Armantono - script writer
- Nan T Achnas - sutradara
- Budiman Akbar - penulis skenario
- Marselli Sumarno - penulis skenario
- Syafi`i Syarim - penata suara
Kota Wisata Batu
